Category Archives: Lain-Lain

“C’est La Vie”


Pagi ini, saya kebetulan chatting dengan salah seorang kawan nun jauh disana di palmerah… :p

Sambil ngobrol ngarol ngidul ke kiri dan kanan akhirnya sampailah suatu pembicaraan tentang kehidupan ini, C’est la vie (ntah bener ntah salah tulisannya)… demikian kawan saya itu berujar (mode chatting-an)

Sebagai orang yang kurang mengerti bahasa gaul, jadilah saya bertanya… Apa artinya itu ? Itulah (ke) hidup (an)… demikian dia berujar (masih tetap dalam mode chatting)….

Kata-kata yang sedikit itu membawa saya pada fantasi masa lalu kehidupan ini… Fantasi pada saat masih kecil kemudian bersekolah, menghadapi masa-masa mengerjakan PR, masa-masa bermain, masa-masa kuliah, masa-masa nge-kost dengan teman-teman di singosari….

Bertemu-Berpisah-Bertemu-Berpisah…. Mudah-Sulit-Mudah-Sulit…. Senang-Susah-Senang-Susah….Turun-Naik-Turun-Naik….. Datang-Pergi-Datang-Pergi…. Terang-Gelap-Terang-Gelap…. Hitam-Putih-Hitam-Putih….

Kombinasi yang sebenarnya tidak terlalu rumit dimengerti tapi terkadang sulit untuk dijalankan…

C’est La Vie… memang seperti itulah kehidupan yang bagai uap air yang sebentar kelihatan lalu lenyap tanpa bekas…

C’est La Vie… memang seperti itulah kehidupan yang segala sesuatau ada masanya…

C’est La Vie… memang seperti itula kehidupan yang tidak pernah bisa kembali lagi dan diulangi lagi…

(3rg3-maret 2011… di sebuah waktu kehidupan)

Iklan

1 Komentar

Filed under Lain-Lain

Angkara Murka


Kebencian dan Rasa Dendam, hanya akan memperpanjang umur angkara murka di bumi ini…

2 Komentar

Filed under Lain-Lain

Hari Pertama di 2011


2011: Hidup lebih teratur, sehat, damai, sejahtera, aman, tanpa air mata kesedihan dan AMIN.

Cuma itu saja harapan di tahun baru ini… Mudah-mudahan, Tuhan mendengar doa dan selalu menyertai kita sepanjang tahun 2011, dari detik pertama sampai detik terakhir 2011… 🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Lain-Lain

Selamat Tahun Baru 2011


Ada kegembiraan..
Ada kesedihan..
Ada yang baru..
Ada yang lama..
Ada yang didapat..
Ada yang hilang..

Namun dari segalanya, kiranya kita semua wajib bersyukur atas segala yang terjadi di tahun 2010.
Karena setiap detik hidup yang kita jalani, Tuhan senantiasa berjalan bersama kita..

Tiada hal yang terlalu berat untuk ditanggung bersama Dia.. Jadi hari boleh berlalu, tahun boleh berganti, tp pastikan kita tetap berjalan bersama Tuhan yang sama setiap tahun.. 🙂

God always bless us.. Happy New Year 2011..

Tinggalkan komentar

Filed under Lain-Lain

Besar…


Lebih baik mencoba sesuatu yang besar dan gagal daripada menjalani sesuatu yang kecil dan sudah pasti berhasil…. -3rg3, 1 Desember 2010-

1 Komentar

Filed under Lain-Lain

Inilah Kritik kepada Presiden Itu…


Opini
Inilah Kritik kepada Presiden Itu…
Kompas – Senin, 6 September 2010 | 18:38 WIB

Catatan Redaksi:

Tulisan yang dimuat di halaman Opini Harian Kompas ini menjadi perbincangan ramai di Twitter dan media lain. Karena itu, Redaksi Kompas.com mengangkat kembali tulisan ini.

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Oleh: Adjie Suradji

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Adjie Suradji, Anggota TNI AU

1 Komentar

Filed under Lain-Lain

Bawahan…


Ada kata-kata menarik dari salah satu orang yang saya kenal.. Begini ujarnya :

“Bila seorang atasan mengatakan kepada bawahannya bahwa dia tidak membutuhkan bawahan dan memperlakukan bawahannya dengan semena-mena, maka suruhlah dia melepaskan celananya agar dia tau betapa pentingnya bawahan itu.”  🙂 🙂

1 Komentar

Filed under Lain-Lain